Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2012

alur dalam novel pintu karya fira basuki


ALUR DAN PENGALURAN
Plot atau alur merupakan salah satu unsure fiksi yang penting, dan dapat pula dokatakan sebagai salah satu unsure yang terpenting dalam fiksi. Kejelasan plot menurut pendekatan structural merupakan kejelasan tentang hubungan antarperistiwa yang dikisahkan secara linier mampu mempermudah dalam pengkajian cerita yang ditampilkan.
Plot sering disebut alur secara tradisional namun, dalam teori-teori yang berkembangdikenal adanya istilah struktur naratif, susunan dan juga sujet.  Kegiatan pemplotan, pengaluran merupakan kegiatan memilih peristiwa yang akan diceritakan dan kegiatan menata atau mengolah dan menyiasatiperistiwa-peristiwa tersebut dalam struktur linier dalam karya fiksi.
UNSUR-UNSUR PENTING DALAM ALUR
Dalam sebuah karya fiksi peristiwa,konflik dan klimaks merupakan unsur yang sangat pentung dalam pengembangan sebuh plot atau alur. Adanya plot dapat ditentukan oleh ketiga unsure tersebut. Ketiga unsur tersebut memiliki hubungan yang mengerucut misalalnya dalam sebuah karya fiksi mengandung banyak cerita namun belum tentu semuanya merupakan konflik. Jumlah konflik juga sangat banyak, namun tidak semua konflik dapat dipandang sebagai klimaks.
a.       Peristiwa
Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan kekeadaan yang lain(Luxemburg dkk: 1992:150). Peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam sebuah karya fiksi sangat banyak, namun tidak semua peristiwa tersebut berfungsi sebagai pendukung plot. Peristiwa dalam hubungannya dalam pengembangan plot/alur atau perannya dalam penyajian cerita peristiwa dapat di bedakan kedalam tiga jenis , yaitu peristiwa fungsional, kaitan dan acuan( Luxemburg dkk: 1992:151-2)
Peristiwa fungsional yaitu peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi dan menentukan perkembangan plot. Urutan-urutan peristiwa fungsional merupakan inti karya fiksi yang bersangkutan.oleh karna itu, kehadiran peristiwa-peristiwa tersebut dalam kaitannya dengan logika cerita merupakan suatu keharusan. Dalam kaitannya dengan novel PINTU karya Fira Basuki  peristiwa fungsional dapat terlihat dari kehidupan Bowo terlahir sebagai bayi kuning yang ternyata memiliki indra keenam yang mampu melihat kehidupan yang tidak kasat mata. Bowo yang menjalin hubungan dengan beberapa wanita yang ditemuinya yang memiliki watak yang berbeda hingga akhirnya mengetahui kenyataan jika seorang wanita yang dulu dicinttainya masih setia menunggunya yang terjawab pada akhir cerita pintu hati pun terbuka.
Peristiwa kaitan yaitu peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa-peristiwa fungsional dengan pengurutan penyajian cerrita secara plot. Peristiwa ini kurang memengaruhi pengembangan plot cerita. Peristiwa kaitan akan memperlengkap cerita, menyambung logika cerita, memperkuat adegan dan peristiwa fungsional. Dalam kaitannya dengan novel PINTU karya Fira Basuki yaitu peristiwa yang dialami oleh Bowo saat menjalani hubungan bersama Erna yang ternyata pada akhirnya diketahui memiliki niat yang jahat. Selain itu, juga mengenai peristiwa pertemuan Bowo bersama Paris yang menyembunyikan identitasnya sebagai istri orang lain dan menjalin hubungan hingga akhirnya berpisah dan mekahi seorang wanita idaman orang tuanya.
Peristiwa acuan adalah peristiwa yang tidak secara lamngsung berpengaruh atau berhubungan dengan perkembangan plot, melainkan mengacu pada unsur lain, misalnya berhubungan dengan masalah perwatakan atau suasana yang melingkupi batin tokoh. Peristiwa ini menceritakan mengenai suasana alam dan batin (Luxemburg : 150-1). Dalam kaitannya dengan novel PINTU karya Fira Basuki yaitu pada saat Bowo memilih bekerja untuk membiayai hidupnya pada saat ayahnya tidak lagi bisa membiayainya. Bowo akhirnya bekerja bersama Antoni yang menjerumuskan dirinya berurusan dengan kepolisian.
b.      Konflik
Konflik yaitu suasana yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi atau dialami oleh tokoh cerita.  Dalam novel PINTU karya Fira Basuki konflik batin yang dialami Bowo ketika mengetahui adanya kekuatan yang dimilikinya dan mengharuskannya mendatangi daerah yang tidak diketahuinya dan semua yang dilaluinya seakan hanya mimpi namun semua itu betul adanya. Selain itu juga konflik yang dialami pada saat menjalani hubungan bersama Erna yang pada akhirnya diketahui oleh teman-temannya jika iya dikirimi ilmu hitam dan membuatnya bermasalah dengan keluarganya akibat perilaku Erna.
c.       Klimaks
Dala sebuah katya fiksi, konflik dan klimaks sangat penting adanya. Sebuah konflik yang semakin menonjak dan meruncing hingga mencapai puncak disebut klimaks. Konflik Antara Bowo dan beberapa wanita mencapai puncaknya ketika Bowo dan Putri yang pada awalnya seorang pasang kekasih namun harus berakhir karna jarak yang memisahkan mereka, pada akhirnya mencengankan banyak orang di hari pernikahan Bowo dan Aida ketika Yangti (eyang putri) meninggal dunia selesai berbicara dengan Putri. Diketahui bahwa pembicaraan mereka yaitu mengenai perasaan Putri terhadap Bowo yang tak pernah hilang sampai saat itu dan pintu hati pun terbuka. Selain ketiga unsure tersebut, dapat ditambahkan beberapa unsure lainnya. Misalnya unsure kewajaran/kemungkinan. Pada novel PINTU karya Fira Basuki unsure kewjaran yaitu pada saat Bowo terlahir sebagai bayi kuning yang ternta memiliki mata ketiga atau mampu melihal hal-hal yang tidak kasat mata dan aura-aura yang dimiliki orang lain. Hal tersebut dapat diwajarkan karna Bowo juga dikatakan masih keturunan Sunan Kalijaga.
Yang kedua yaitu suspense(ketegangan). Pada novel PINTU karya Fira Basuki unsure ketegangan terjadi ketika Niko meninggal yang membuatnya ketakutan karna namanya terseret gara-gara pada saat kejadian tersebut dirinya bersama niko dan polisi pun mencarinya. Namun pada akhirnya masalah tersebut berakhir dan diketahui pelakunya adalah si Udel. Hingga akhirnya orang tua Bowo memutuskan mengirimya ke Amerika.
Selanjutnya unsure surprise/kejutan. Dalam novel PINTU karya Fira Basuki pembaca mendapatkan unsure kejutan yaitu pada saat Bowo mengunjungi adiknya yang berada di Singapura dan bertemu dengan seorang anak kecil yang memiliki nama yang sama dengan seorang wanita yang pernah bersamanya yaitu Paris. Bahkan anak kecil tersebut memiliki sifat,wajah dan memanggil dirinya sama dengan Paris. Selain itu surprise yang dimunculkan yaitu pada saat semua orang mengetahui pintu hati seorang Putri yang mampu menjaga cintanya terhadap Bowo meskipun Bowo seringkali menghianatinya hingga sampai pada puncaknya Bowo menikahi wanita lain dan ternyata Putri masih memiliki cinta itu dan menyebabkan Yangti meninggal.
            Dari keseluruhan yang ditampilkan pengarang baik dari segi alur,konflik,peristiwa hingga klimaks yang dialami oleh para tokoh, semua unsure tersebut memiliki keterkaitan diantaranya yang diawali dengan adanya tokoh Bowo yang pada awalnya menceritakan kisah percintaannya dengan beberapa wanita yang memiliki konflik yang berbeda hingga akhirnya cerita cinta tersebut berakhir dengan sebuah kisah yang sangat mencengankan yaitu sebuah ketulusan hati seorang wanita yang terabaikan oleh seorang laki-laki.

DAFTAR PUSTAKA
·         Basuki, Fira. 2002. Pintu. Jakarta: PT Grasindo.
·         Luxemburg, Jan van dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta : PT Gramedia.
·         Sugihastuti, dkk. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
·         Suyoto, Agustinus. Lembar Komunikasi Bahasa dan Sastra Indonesia.Http://www.unsur-unsur intrinsik prosa-.htm

tokoh dalam vovel pintu karya fira basuki


TUGAS 4
1.      TOKOH
Dalam novel PINTU karya Fira Basuki pengarang memunculkan beberapa tokoh diantaranya Bowo yang berperan sebagai tokoh utama atau tokoh sentral. Selain itu, pengarang juga menampilakan beberapa tokoh diantaranya papa, mama, Putri, Erna, yangti, june, jigme, adi, paris, jeliteng, H. Brewok, Udel, Dodi, Anna.
2.      CARA PENYAJIAN TOKOH
Penokohan yaitu penyajian watak tokoh  dan penciptaan citra tokoh. Dalam penyajian watak tokoh ada beberapa macam metode penyajian watak tokoh yaitu
a.       Metode analitis / langsung/diskursif
Yaitu penyajian watak tokoh dengan cara memaparkan watak tokoh secara langsung
b.      Metode dramatik/tak tangsung/ragaan
Yaitu penyajian watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula  dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh.
c.       Metode kontekstual
Yaitu penyajian watak tokoh melalui gaya bahasa yang digunakan pengarang. Dalam novel ini, penyajian watak tokoh dengan menggunakan metode
Dalam novel ini menggunakan metode dramatik /tidak langsung/ragaan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai aspek yang  berhubungan dengan dengan aspek itu sendiri. Tokoh Bowo disajikan dalam tokoh utama oleh pengarang dengan memunculkan karakter tokoh tersebut sehingga pembaca mampu menangkap karakter tersebut. Selain itu dalam beberapa dialog, pengarang jiga memunculkan karaktaear tokoh utama sacara langsung memaparkan secara jelas karakter dari tokoh utama.
3.      PENOKOHAN:
Peran tokoh utama
Biasanya di dalam suatu cerita fiksi terdapat tokoh cerita atau pelaku cerita. Tokoh cerita bisa satu atau lebih. Tokoh yang paling banyak peranannya di dalam suatu cerita di sebut tokoh utama. Antara tokoh yang satu dengan  yang lain ada keterkaitan. Tindakan tokoh cerita ini merupakan rangkaian peristiwa antara satu kesatuan waktu dengan waktu yang lain. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tokoh tentu ada penyebabnya dalam hal ini adalah tindakan-tindakan atau peristiwa sebelumnya. Jadi mengikuti atau menelusuri jalannya cerita sama halnya dengan mengikuti perkembangan tokoh melalui tindakan-tindakanny. Dalam novel PINTU karya Fira Basuki dapat dilihat bahwa yang termasuk tokoh utama yaitu Bowo. Bowo menjalani kehidupannya sebagai manusia yang memiliki mata ketiga atau mampu melihat hal-hal yang kasat mata ataupun tidak kasat mata.  Dalam kehidupannya dia beberapa kali bertemu dengan beberapa wanita yang berbeda hingga akhirnya ia menemukan manita yang menemani hidupnya. Dalam novel ini, tokoh bowo ditampilkan secara terus menerus dari awal hingga akhir cerita. Tokoh bowo merupakan tokoh yang membawa konflik dalam
4.      KARAKTER TOKOH
Karakter tokoh dalam sebuah novel sangat berpengaruh terhadap alur cerita dalam novel tersebut. Dalam novel pintu tokoh Bowo merupakan tokoh utama. Karakter tokoh utama dalam novel ini ditunjukkan dengan ucapan-ucapan dan perbuatan  tokoh Bowo. Yaitu seorang laki-laki yang dijelaskan oleh pengarang memiliki mata ketiga atau indra keenam yang mampu melihat masa lalu dan masa yang akan datang. Tokoh utama
SUMBER
·         Basuki, Fira. 2002. PINTU .  Jakarta. PT. Grasindo
·         Suyoto, Agustinus. Lembar Komunikasi Bahasa dan Sastra Indonesia.Http://www.unsur-unsur intrinsik prosa-.htm

Sejarah, unsur-unsur dan kelemahan strukturalisme.


Strukturalisme dalah faham atau pandangan yang menyatakan bahwa semua masyarakat dan kebudayaan  memiliki suatu struktur yang sama dan tetap. Tahun 1966 digambarkan oleh Francois Dosse dalam bukunya Histoire du Structuralism sebagai tahun memancarnya strukturalisme di Eropa, khususnya di Prancis. Perkembangan strukturalisme pada tahun 1967-1978 digambarkan sebagai masa penyebaran gagasan strukturalisme dan penerangan tentang konsep strukturalisme serta perannya dalam ilmu pengetahuan. Strukturalisme berasal dari bahasa Inggris, structuralism; latin struere (membangung), structura berarti bentuk bangunan. Struktualisme berkembang pada abad  20, muncul sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis.
Teori struktural memiliki prinsip-prinsip dasar yaitu diantaranya:
a.       Karya sastra merupakan sesuatu yang otonom atau berdiri sendiri
b.      Karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari unsur-unsur pembangun karya sastra
c.       Makna sebuah karya sastra hanya dapat diungkapkan atas jalinan atau keterpaduan antarunsur
Teori struktural memandang teks sastra sebagai satu struktur dan antar unsurnya merupakan satu kesatuan yang utuh, terdiri dari unsur-unsur yang saling terkait, yang membangun satu kesatuan yang lengkap dan bermakna.  Menurut Abrams, teori struktural adalah bentuk pendekatan yang obyektif karena pandangan atau pendekatan ini memandang karya sastra sebagai suatu yang mandiri. Ia harus dilihat sebagai obyek yang berdiri sendiri, yang memiliki dunia sendiri, oleh sebab itu kritik yang dilakukan atas suatu karya sastra merupakan kajian intrinsik semata. Abrams menambahkan, bahwa suatu  karya sastra menurut kaum strukturalisme merupakan suatu totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya.
Teori struktural memandang teks sastra sebagai satu struktur dan antarunsurnya merupakan satu kesatuan yang utuh, terdiri dari unsur-unsur yang saling terkait, yang membangun satu kesatuan yang lengkap dan bermakna. Cara kerja dari teori struktural adalah membongkar secara struktural unsur-unsur intrinsik, yaitu dengan mengungkapkan dan menguraikan unsur-unsur intrinsik. Analisis struktural yang menekankan otonomi teks sastra, menurut Teeuw, ternyata belum  merupakan teori sastra. Bahkan tidak berdasarkan teori sastra yang tepat dan lengkap sehingga dapat membahayakan pengembangan teori sastra. Analisis berdasarkan konsep otonomi karya sastra juga menghilangkan konteksnya dan fungsinya. Akibatnya, karya sastra itu terasing dan akan kehilangan relevansi sosial budayanya. Makna karya sastra (puisi, cerpen, novel) tidak hanya ditentukan oleh struktur itu sendiri, tetapi juga latar belakang pengarang, lingkungan sosial budaya, politik, ekonomi dan psikologis pengarangnya. Faktor-faktor ekstrinsik yang disebutkan tadi memberikan andil yang besar kepada pengarang untuk melahirkan karyanya. Mengingat sastra tidak bisa dilepaskan dengan realitas kehidupan masyarakat, maka faktor-faktor lingkungan, kebudayaan dan semangat zaman, tak bisa diabaikan. Dengan demikian, gerakan otonomi karya sastra sesungguhnya berarti menempatkan pada ruang yang terpencil. Dalam kaitan inilah pendekatan struktural kemudian digugat karna dianggap terdapat kelemahan didalam analisisnya.



Sumber:
·         Suara Karya, Sabtu, 6 November 2010
·         Yusuf Kamal. 2009. TEORI SASTRA,Modul Mata Kuliah. IAIN Surabaya. Surabaya
·         Luxemburg, Jan Van dkk. 1984. Penganter Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Gramedia
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Satra. Jakarta. Pustaka Jaya

puisi


Definisi puisi dari beberapa ahli.
1.    Puisi menurut Samuel Johnson
  Puisi adalah seni penyatuan kesenangan dengan kebenaran melalui sentuhan imajinasi yang bernalar.

2.    Puisi menurut Samuel Taylor Coleridge
“ puisi adalah rangkaian kata terbaik dalam tata urut nan indah. “

3.    Puisi menurut Percy Bysshe Shelley
  puisi adalah pengabdian saat-saat yang terbaik dan terbahagia dari sanubari nan bahagia dan indah.

4.    Puisi menurut Thomas Carlyle
“ pikiran yang musical.”
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa puisi adalah karya sastra yang merupakan ekspresi konkret dan bersifat artistic yang berasal dari kehidupan manusia.

5.    Puisi menurut Matthew Arnold
“ puisi adalah di lembah kritik kehidupan”

6.    Puisi menurut Emily Dickinson
“ puisi adalah jika saya membaca sebuah buku dan buku itu membuat saya sedemikian menggigil sehingga tiada api yang mampu menghangatkannya saya segera mengetahui bahwa yang saya baca  adalah puisi. Ketika saya merasa secara pisik bahwa ubun-ubun saya dicomot, saya tahu itulah puisi. Adalah sesuatu yang lain seperti itu?


7.    Puisi menurut Wallace Stevens
“ puisi adalah kenikmatan dalam kata dengan sarana kata-kata.

8.    Puisi menurut W.H. Auden
“ puisi adalah ekspresi yang bening dari perasaan yang berbaur.
Dari beberapa definisi puisi para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa puisi adalah sebuah ungkapan jiwa yang tercipta dengan ekspresi diri dan dituangkan dalam bentuk kata-kata yang mampu memberikakan suatu perasaan yang berbeda saat menghayati puisi tersebut.


Sumber
Gani, Rizanur. 1988. Respons dan Analisis. Padang: Dian Dinamika Press.

Unsur-unsur Pembangun Puisi


Banyak teori tentang unsur pembangun puisi yang dikemukakan oleh para ahli yang ditinjau dari berbagai macam pendekatan dalam apresiasi puisi.
Richards mengatakan bahwa unsur puisi terdiri dari:
1.    Hakikat puisi yang melipuiti tema (sense), rasa (feeling), amanat (intention), nada (tone)
2.   Metode puisi yang meliputi diksi, imajeri, kata nyata, majas, ritme, dan rima (Waluyo, 1987: 27).
Waluyo (1987: 27-28) yang mengatakan bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang.
Menurut Jabrohim (2001: 34), dalam puisi terdapat 7 unsur struktur fisik, yaitu, diksi, pengimajian, kata konkret, majas, versifikasi, tipografi, dan sarana retorika. Sedangkan struktur batin puisi yaitu, tema, nada, perasaan, dan amanat.
Dari beberapa teori unsur pembangun puisi yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli di atas maka penulis menyimpulkan unsur pembangun puisi ke dalam dua bagian yaitu:
  1. Struktur fisik
Unsur-unsur yang termasuk dalam struktur fisik yang diuraikan sebagai berikut:
  1. Diksi
Diksi adalah bentuk serapan dari kata diction yang oleh Hornby diartikan sebagai choise and use of words. Oleh Keraf diksi disebut pula pilihan kata (Jabrohim, 2001: 35).
2.Pengimajian
Gambaran-gambaran angan, gambaran pikiran, kesan mental atau bayangan visual dan bahasa yang menggambarkannya biasa disebut dengan istilah citra atau imaji. Sedangkan membentuk kesan mental atau gambaran sesuatu biasa disebut citraan atau imajinasi (Jabrohim, 2001: 36).
Jadi, pengimajian adalah angan, pikiran, dan pengalaman pengarang hingga membentuk bahasa yang seolah-olah dapat dilihat, didengar, dan dirasakan oleh pembacanya.
3.Kata konkret
Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca (Jabrohim, 2001: 41).
4.Bahasa figuratif
Bahasa figuratif ialah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna (Waluyo, 1987: 83).
5.Versifikasi
Versifikasi meliputi ritma, rima, dan metrum.
Rima adalah pengulangan bunyi di dalam baris atau larik puisi, pada akhir baris puisi, atau bahkan juga pada keseluruhan baris atau bait puisi (Jabrohim, 2001: 53-54).
Ritma adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur (Jabrohim, 2001: 53).
Metrum adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu (Jabrohim, 2001: 54).
6.Tipografi
Tipografi merupakan pembeda yang paling awal dapat dilihat dalam membedakan puisi dengan prosa fiksi dan drama (Jabrohim, 2001: 54).
7.Sarana retorika
Sarana retorika adalah muslihat pikiran. Muslihat pikiran ini berupa bahasa yang tersusun untuk mengajak pembaca berpikir (Jabrohim, 2001: 57).
2.   Struktur batin
Menurut Waluyo (1987: 106), struktur batin puisi ada empat unsur, yakni:
  1. Tema
Tema merupakan gagasan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair (Waluyo, 1987: 106). Sesuatu yang menjadi pikiran tersebut menjadi dasar puisi yang dicipta oleh penyair.
2.   Perasaan penyair
Dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair lainnya, sehingga hasil puisi yang diciptakan berbeda pula.
3.  Nada dan suasana
Nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca. Sedangkan suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca (Waluyo, 1987: 125).
4.   Amanat
Amanat atau tujuan adalah hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya (Jabrohim, 2001: 67).
DAFTAR PUSTAKA
Jabrohim, Suminto, dan Charil Anwar. Menulis Kreatif. 2001. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Waluyo, Herman J. Teori dan Apresiasi Puisi. 1987. Surakarta: Erlangga.

teks naratif

TUGAS

TEKS-TEKS NARATIF
Teks-teks naratif adalah semua teks yang tidak bersifat dialogdan isinya merupakan suatu kisah sejarah dan sebuah deretan peristiwa. Teks naratif bermacam-macam baik dalam bentuk sastra ataupun beberapa bentuk berita acara,surat kabar dan masih banyak lagi. Pemaparan teks-teks naratif dapat dilakukan dengan berbagai aspek yaitu :
·         Aspek yang berhubungan dengan kata-kata,segi bahasa dan teksnya.
Adanya pencampuran bahasa atau dengan kata lain situasi bahasa dalam penuturan penutur yang berbeda bersifat homogeny.
·         Aspek yang berhubungan dengan isi teks
Dalam hal ini aspek tersebut berhubungan dengan teksnya sehingga cerita tidak terikat sama sekali dengan sarana bahasa.
·         Aspek yang berhubungan dengan alur
Aspek tersebut merupakan penentuan alur peristiwa dengan memperhatikan posisi para pelaku dengan peristiwa-peristiwa yang bersangkutan.
Selain dari aspek tersebut, masih terdapat beberapa aspek yang dapat digolongkan dalam hubungannya dengan teks-teks naratif. Actor(tokoh), dalam hal ini actor merupakan pemunculan karakter individual dari seorang tokoh atu pelaku dalam meneliti. Teks-teks naratif memiliki bahasa yang bercampur. Para aktor atau pelaku berbicara baik secara sekunder maupun secara primer, penuturan langsung dan penuturan tidak langsung serta menarasikan ungkapan bahasa.
. Pencerita sekunder tidak hadir secara intern dalam cerita yang dituturkannya. Pencerita intern merupakan bagian dalam dunia yang dipantulkan dalam cerita. Juru bicara primer bertindak sebagai juru bicara. Penuturan tidak langsung memiliki sifat ilusi ketelitian yaitu kata-kata yang diucapkan merukan makna gramatikal. Penuturan langsung secara bebas yaitu penampilan tidak langsung seperti dalam penuturan tidak langsung. Secara simentik kata bebas berarti iya tidak dapat mengatakan tidak pada sesuatu yang telah disepakati.penuturan tidak langsung bebas tidak memastikan status kata-kata yang dikutip. Antara pembicara dan pendengar terdapat hubungan yang simetri. Terkadang pendengar primer hamper identik dengan pencerita primer. Pendengar tersier adalah para pelaku yang disapa oleh berbagai pencerita tersier. Dalam dialog-dialog pencerita dan pendengar silih berganti.
Dalam penampilan ungkapan bahasa tidak langsung, pencerita primer mengambil alih tanggung jawab bagi ungkapan –ungkapan para pelaku. Peristiwa atau situasi  yang ditampilkan merupakan pangkal dari suatu visi.  Dalam sebuah cerita unsure-unsur peristiwa disajikan dalam dara tertentu dan disajikan sebuah visi terhadap deretan peristiwa. Hubungan antara unsure-unsur dan visi disajiakan kepada kita dan disebut fokalisasi(focus=kancah perhatian). Fokalisator adalah subjek dari fokalisasi, orang atau lembaga memiliki deretan-deretan peristiwa.  Fokalisasi dapat dilakukan oleh seorang tokoh dalam cerita atau juru kunci tersebut. Menceritakan sesuatu selalu menyangkut fokalisasi. Fokalisator primer selalu disamakan dengan pencerita sekunder. Jika fokalisator sama dengan seorang tokoh , maka secara teknis tokoh itu lebih beruntung daripada teknis tokoh itu lebih beruntung daripada tokoh. Pembaca yang turut melihat dengan tokoh itu pada prinsipnya cenderung menerima visi yang lewat tokoh itu prinsipnya cenderung menerima visi yang lewat tokoh itu disajikan.
Terikatnya seorang fokalisator kepada seorang tokoh mengakibatkan sikap yang berat sebelah dan keterbatasan. Fokalisasi yang terikat akan seorang tokoh dapat berganti, beralih dari tokoh yang satu dengan tokoh yang lain dan merupakan asalmuasal sebuah konflik.
Tahap-tahap fokalisasi
Teks dalam berbagai juru bicara dapat dicangkokkan. Tahap-tahap penceritaan dapat dikenal karna bentuknya yang jelas. Kata-kata kerja seperti berkata dan sinonom-sinonimnya menunjukkan bahwa suatu tahap penceritaan kedua dicangkokkan pada tahap pertama. Bila fokalisasi dicangkokkan dalam bentuk penuturan tidak langsung secara bebas.
Kasus-kasus tidak jelas
a.       Kalimat-kalimat sebelimnya
b.      Kalimat-kalimat bereikut
c.       Cirri-ciri stilistik
Objek-objek yang difokalisasikan  dalam susunan dunia rekaan yaitu tokoh-tokoh, benda-benda, pemandangan alam, peristiwa-peristiwa, dan semua yang berhubungan dengan dunia rekaan.
Tokoh-tokoh pertama-tama dicirikan oleh cara mereka memandang ikhwal sekitar mereka. Maka dari itu, hubungan antara subjek dan objek fokalisasi menarik untuk ditinjau. Untuk menganalisah akibat fokalisasi terhadap seorang tokoh. Selain itu, hubungan antara cirri tokoh yang satu dan cirri tokoh yang lain menentukan profil seorang tokoh. Penyajian peristiwa-peristiwa , ruang merupakan dunia yang menampung para tokoh.
Alur merupakan konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logik dan kronologik saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami oleh para pelaku.  Alur sebuah cerita dapat disimpulkan dari data yang disajikan dalam teks. Hubungan antara peristiwa-peristiwa fungsional akan terkumpul sejumlah kelompok . episode-episode yang paling pokok adalah situasi awal, komplikasi dan penyelesaian. Siatuasi tersebut dapat dikombinasikan dan diulangi dalam satu alur. Sebagian besar alur merupakan komplikasi. Secara global merupoakan kemajuan atau kemunduran, selagi pelaku maju atau mundur. Para pelaku terlihat dalam proses pembinaan alur. Model aktansi dan model pembuat. Alur dapat dipandang sebagai suatu usaha atau perjuangan yang terarah. Para pelaku dapat dibagikan menurut kelompok-kelompok yang masing-masing mempunyai suatu hubungan tetap dan tertentu dengan usaha atau perjuangan. Hubungan pertama dan utama yang perlu dicatat yaitu hubungan antara pelaku yang memperjuangkan tujuannya. Hubungan antara pejuang dan tujuan.

novel,roman,novelet

TUGAS 2

1.      NOVEL
Novel ialah suatu cerita dengan alur panjang mengisi satu buku atau lebih, yang mengarang kehidupan manusia, yang bersifat imajinatif, menceritakan kehidupan manusia hingga terjadinya konflik yang dapat menyebabkan perubahan nasib bagi para pelakunya. Dalam novel terjadi konflik batin, perwatakan digambarkan secara detail, memiliki alur lebih rumit, latar lebih luas dan waktunya lebih lama, lebih panjang karangannya daripada cerpen dan unsur-unsur cerita dalam novel lebih kompleks dan beragam.
2.      CERPEN
Sebuah cerpen pada dasarnya menuntut adanya perwatakan yang jelas. Tokoh merupakan pusat sorotan dalam cerita. Unsur penokohan dalam cerpen terasa lebih dominan, dari pada unsur yang lain. Dalam cerpen perwatakan digambarkan secara singkat, konflik tidak harus terjadi, memiliki latar hanya sebentar dan terbatas serta akhir ceritanya sederhana.
3.      ROMAN
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia roman merupakan karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Roman memiliki alur yang kompleks, memiliki konflik yang mengubah nasib tokoh secara tragis dan menceritakan kehidupan tokoh dari awal hingga akhir secara mendetail.
4.      CERBER
Cerber juga dikatakan cerita bersambung. Menurut Prabowo cerber merupakan salah satu bentuk karya sastra yang berbentuk narasi fiktif yang  biasanya ditulis di Majalah atau dalam media yang lain dan adapun ceritanya dipotong-potong sehingga para pembaca bisa terus menbaca ceritanya sampai akhir.
5.      NOVELET
Novelet yaitu novel pendek. Novelet memiliki cakupan yang lebih luas, baik dalam plot, tema, dan unsur-unsur yang lain. Novelet menurutAngga (1999:23) adalah cerita berbentuk prosa yang panjangnya antara novel dan cerita pendek. Bentuk novelet juga sering disebut sebagai cerita pendek yang panjang saja


SUMBER
·         Kamus Besar Bahasa Indonesia
·         http://go-blogmedia.blogspot.com/2009/09/perbedaan-roman-novel-dan-cerpen.html

sejarah drama di dunia

Sejarah Drama di Dunia


1. Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Drama terlebih dahulu berkembang di dunia barat yang disebut drama klasik pada zaman Yunani dan Romawi. Pada masa kejayaan kebudayaan Yunani maupun Romawi banyak sekali yang bersifat abadi, terkenal sampai kini. Semua ini sekedar informasi untuk memperluas pengetahuan kita di Indonesia khususnya mahasiswa tentang perkembangan drama di luar Indonesia.

2. Sejarah Drama di Dunia
2.1. Drama Klasik
Yang disebut drama klasik adalah drama yang hidup pada zaman Yunani dan Romawi. Pada masa kejayaan kebudayaan Yunani maupun Romawi banyak sekali karya drama yang bersifat abadi, terkenal sampai kini.

a. Zaman Yunani.
Asal mula drama adalah Kulrus Dyonisius. Pada waktu itu drama dikaitkan dengan upacara penyembahan kepada Dewa Domba/Lembu. Sebelum pementasan drama, dilakukan upacara korban domba/lembu kepada Dyonisius dan nyanyian yang disebut “tragedi”. Dalam perkembangannya, Dyonisius yang tadinya berupa dewa berwujud binatang, berubah menjadi manusia, dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan. Komedi sebagai lawan dari kata tragedi, pada zaman Yunani Kuno merupakan karikatur terhadap cerita duka dengan tujuan menyindir penderitaan hidup manusia.
Ada 3 tokoh Yunani yang terkenal, yaitu: Plato, Aristoteles, dan Sophocles. Menurut Plato, keindahan bersifat relatif. Karya karya seni dipandanganya sebagai mimetik, yaitu imitasi dari kehidupan jasmaniah manusia. Imitasi itu menurut Plato bukan demi kepentingan imitasi itu sendiri, tetapi demi kepentingan kenyataan. Karya Plato yang terkenal adalah The Republic. Aristoteles juga tokoh Yunani yang terkenal. Ia memandang karya seni bukan hanya sebagai imitasi kehidupan fisik, tetapi harus juga dipandang sebagai karya yang mengandung kebijakan dalam dirinya. Dengan demikian karya-karya itu mempunyai watak yang menentu. Sophocles adalah tokoh drama terbesar zaman Yunani. Tiga karya yang merupakan tragedi, bersifat abadi, dan temanya Relevan sampai saat ini. Dramanya itu adalah: “Oedipus Sang Raja”, “Oedipus di Kolonus”, dan “Antigone”. Tragedi tentang nasib manusia yang mengenaskan. Tokoh Lain yang dipandang tokoh pemula drama Yunani adalah Aeschylus, dengan karya-karyanya: “Agamenon”, “The Choephori”, “The Eumides”. Euripides yang hidup antara 485-306 SM, merupakan tokoh tragedi, seperti halnya Aeschylus. Karya-karya Euripides adalah: Electra, Medea, Hippolytus, The Troyan Woman dan Iphigenia in Aulis. Jika Aeschylus, Sophocles, dan Euripides merupakan tokoh strategi, maka dalam hal komedi ini mengenal tokoh Aristophanes. Karya-karyanya adalah : The Frogs, The Waps, dan The Clouds.




Bentuk Stragedi Klasik, dengan ciri-ciri tragedi Yunani adalah sebagai berikut :

1. Lakon tidak selalu diakhiri dengan kematian tokoh utama atau tokoh protagonis.
2. Lamanya Lakon kurang dari satu jam.
3. Koor sebagai selingan dan pengiring sangat berperan (berupa nyanyian rakyat atau
pujian).
4. Tujuan pementasan sebagai Katarsis atau penyuci jiwa melalui kasih dan rasa takut.
5. Lakon biasanya terdiri atas 3-5 bagian, yang diselingi Koor (stasima). Kelompok Koor
biasanya keluar paling akhir (exodus).
6. Menggunakan Prolog yang cukup panjang.
Bentuk pentas pada zaman Yunani berupa pentas terbuka yang berada di ketinggian. Dikelilingi tempat duduk penonton yang melingkari bukit, tempat pentas berada di tengah-tengah. Drama Yunani merupakan ekspresi religius dalam upacara yang bersifat religius pula.

Bentuk Komedi, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Komedi tidak mengikuti satire individu maupun satire politis.
2. Peranan aktor dalam komedi tidak begitu menonjol;
3. Kisah lakon dititikberatkan pada kisah cinta, yaitu pengejaran gadis oleh pria yang
cintanya ditolak orang tua/famili sang gadis.
4. Tidak digunakan Stock character, yang biasanya memberikan kejutan.
5. Lakon menunjukan ciri kebijaksanaan, karena pengarangnya melarat dan menderita, tetapi kadang-kadang juga berisi sindiran dan sikap yang pasrah.


b. Zaman Romawi
Terdapat tiga tokoh drama Romawi Kuno, Yaitu: Plutus, Terence atau Publius Terence Afer, dan Lucius Senece. Teater Romawi mengambil alih gaya teater Yunani. Mula-mula bersifat religius, lama-kelamaan bersifat mencari uang (show biz). Bentuk pentas lebih megah dari zaman Yunani.


2.2. Teater Abad Pertengahan
Pengaruh Gereja Khatolik atas drama sangat besar pada zaman Pertengahan ini. Dalam pementasan ada nyanyian yang dilagukan oleh para rahib dan diselingi dengan Koor. Kemudian ada pelanggan “Pasio” seperti yang sering dilaksanakan di gereja menjelang upacara Paskah sampai saat ini.’

Ciri-ciri khas theater abad Pertengahan, adalah sebagai berikut :
1. Pentas Kereta.
2. Dekor bersifat sederhana dan simbolik.
3. Pementasan simultan bersifat berbeda dengan pementasan simultan drama modern.




2.3. Zaman Italia
Istilah yang populer dalam zaman Italia adalah Comedia Del’arie yang bersumber dari komedi Yunani. Tokoh-tokohnya antara lain: Date, dengan karya-karyanya: The Divina Comedy Torquato Tasso dengan karyanya drama-drama liturgis dan pastoral dan Niccolo Machiavelli dengan karya-karyanya Mandrake.

Ciri-ciri drama pada zaman ini, adalah sebagai berikut :

a. Improvitoris atau tanpa naskah.
b. Gayanya dapat dibandingkan dengan gaya jazz, melodi ditentukan dulu, baru
kemudian pemain berimprovisasi (bandingkan teater tradisional di Indonesia).
c. Cerita berdasarkan dongeng dan fantasi dan tidak berusaha mendekati kenyataan.
d. Gejala akting pantomime, gila-gilaan, adegan dan urutan tidak diperhatikan.


2.4. Zaman Elizabeth
Pada awal pemerintahan Ratu Elizabeth I di Inggris (1558-1603), drama berkembang dengan sangat pesatnya. Teater-teater didirikan sendiri atas prakarsa sang ratu. Shakespeare, tokoh drama abadi adalah tokoh yang hidup pada zaman Elizabeth.

Ciri-ciri naskah zaman Elizabeth, adalah:

a. Naskah Puitis.
b. Dialognya panjang-panjang.
c. Penyusunan naskah lebih bebas, tidak mengikuti hukum yang sudah ada.
d. Lakon bersifat simultan, berganda dan rangkap.
e. Campuran antara drama dengan humor.


2.5. Perancis : Molere dan Neoklasikisme

Tokoh-tokoh drama di Prancis antara lain Pierre Corneile (1606-1684, dengan karya-karya: Melite, Le Cid), Jean Racine (1639-1699, dengan karya: Phedra).


2.6. Jerman: Zaman Romantik

Tokoh-tokoh antara lain: Gotthold Ephrairn Lessing (1729-1781, dengan karya Emilla Galott, Miss Sara Sampson, dan Nathan der Weise), Wolfg Von Goethe (1749-1832, dengan karya: Faust, yang difilmkan menjadi Faust and the Devil), Christhoper Frederich von Schiller (1759-1805, dengan karya: The Robbers, Love and Intrigue, Wallenstein, dan beberapa adaptasi dan Shakespeare).



2.7. Drama Modern
a.      Norwegia : Ibsen
Tokoh paling terkemuka dalam perkembangan drama di Norwegia adalah Henrik Ibsen (1828-1906). Karya Ibsen yang paling terkenal dan banyak dipentaskan di Indonesia adalah “Nova”, saduran dari terjemahan Armyn Pane “Ratna”. Karya-karya Ibsen adalah Love’s Comedy, The Pretenders, Brand dan Peer Gynt (drama puitis), A Doll House, An Emeyn of the people, The Wild Duck, Hedda Gabler, dan Rosmersholm.


b.     Swedia : August Strinberg
Tokoh drama paling terkenal di swedia adalah Strindberg (1849-1912). Karya-karya drama yang bersifat historis dari Strindberg di antaranya adalah Saga of the Folkum dan The Pretenders, Miss Julia dan The Father adalah drama naturalis. Drama penting yang bersifat ekspresionitis adalah A Dream Play, The Dance of Death, dan The Spook Sonata.


c.      Inggris : Bernard Shaw dan Drama Modern.
Tokoh drama modern Inggris yang terpenting (setelah Shakespeare) adalah George Bernard Shaw (1856-1950). Ia dipandang sebagai penulis lakon terbesar dan penulis terbesar pada abad Modern.


d.     Irlandia : Yeats sampai O’Casey
Tokoh penting drama Irlandia Modern adalah William Butler Yeats yang merupakan pemimpin kelompok sandiwara terkemuka di Irlandia dan Sean O’Casey (1884) dengan karyanya: The Shadow of a Gunman, Juno and the Paycock, The Plough and the Start, The Silver Tassie, Withim the Gates, dan The Start Turns Red. Tokoh lainya adalah John Millington Synge (1871-1909) dengan karya-karya: Riders to the Sea, dan The Playboy of the Western World. Synge merupakan pelopor teater Irlandia yang mengangkat dunia teater menjadi penting disana.


e.      Perancis : dari Zola sampai Sartre
Dua tokoh drama terkemuka di Prancis adalah Emile Zola (1840-1902) dan Jean Paul Sartre (1905).


f.        Jerman dan Eropa Tengah : dari Hauptman sampai Brecht
Banyak sekali sumbangan Jerman terhadap drama modern Tokoh seperti Hebble dan temannya telah mempelopori a1iran Realisme. Pengarang Naturalis yang terkenal adalah Gerhart Huptman (1862-1945) dan Aflhur Schnitzler (1862-19310).


g.      Italia : dari Goldoni sampai Pirandillo
Setalah zaman resenaissance, karya-karya drama banyak berupa opera disamping comedia dell’arte. Tokoh drama Italia antara lain Goldoni (1707-1793) dengan karya Mistress of the Inn. Gabrille D’Annunzio (1863-1938) dan Luigi Pirandello (1867-1936).


h.     Spanyol : dari Benavente ke Lorca
Bagi Spanyol, abad XX dipandang sebagai abad kebangkitan dromatic spirit. Tokohnya antara lain: Jacinto Benavente (1866-1954) yang pernah mendapat hadiah Nobel 1922. Sezaman dengan Benavente adalah Gregorio Martinez Sierra (1881-1947) dengan karyanya The Cradle Song. Pengarang paling penting pada zaman modern di Spanyol adalah penyair dan penulis drama Federico Garcia Lorco (1889-1936).


i.        Rusia : dari Pushkin ke Andreyev
Tzarina Katerin Agung dipandang sebagai pengembangan drama di Rusia. Pengarang pertama yang dipandang serius adalah Alexander Pushkin (1799-1837) dengan karyanya Boris Godunov, sebuah tragedi historis.


j.        Amerika : Golfrey sampai Miller
karyanya The Princes of Parthic (1767).  Sejak adanya Broadway sebagai pusat teater, perkembangan teater di Amerika sangat pesat. Tokoh-tokohnya antara lain Eugne Gladstone O’Neill (1888-1953). Tokoh drama lainya Maxwell Anderson (188-1959). Dengan karyanya: Elizabeth the Queen, Mary of Scotland, dan Anne of Thousand Days. Juga Winterset, What Price Glory, Both Your houses dan High Tor. Thornton Wulder (1897- .....) dengan karyanya Our Town, The Skin of Our Theeth, dan The Matchmake,: Elmer Rice (1892-....), karyanya: Street Scene (mendapat hadiah Pulitzer), The Adding Machine, dan Dream Girl.  Beberapa pengarang lain diantaranya Clifford Odets (yang dikenal dengan protes sosialnya, (Tennesse Williams dan Arthur Miller, Odets (1906-…..). antara lain mengarang: Waiting-for Lefty, Golden Boy, Awake and Sing, The country Girl, dan The Flowering Peach. Pengikut Odets sebagai pengarang protes social adalah: Lilian Heilman Saroyan ( 1905-….).  Yang dikenal sebagai pengarang masa kini di antaranya adalah Tennesse Williams (1914-.….) Arthur Miller (1915-….) dan William Inge. Pengarang lainnya adalah: Robert Anderson (karyanya: Tea and Shympathy, All Summer Long, an Silent Night, Lonely Night). William Gibson (Karyanya: Two for the Seesaw dan The Miracle Worker). Brooks Atkinson (karyanya: The New York Times).  Drama Komedi musikal juga berkembang di Amerika, misalnya: A Trip to Chinatown (oleh Charles Hoyt), Forty Five Minutes from Broadway (oleh George M. Cohan), Of There I Song karya George S.